Jumat, 18 Januari 2013

manajemen dakwah sebagai cabang ilmu


 smoga bermanfaat ;)



BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
Salah satu bentuk pengakuan bahwa bidang pengetahuan disebut Ilmu pengetahuan adalah karena bidang itu diterima di dunia akademik dan dikaji secara disipliner dalam wadah program studi/jurusan/fakultas. Dilihat dari sisi lain, ilmu dakwah suda diakui masyarakat ilmiah sejak dibukanya jurusan dakwah pada Fakultas Ushuluddin al-Azhar pada 1942 dan dterbitkannya karya Ilmiah Syekh Ali Makhfudz yang berjudul Hidayah al-Mursyidin.
Dakwah tidak hanya dilihat sebagai kegiatan tabligh tetapi juga pembangunan umat dalam bentuk pengembangan masyarakat Islam. Demikian juga, dakwah bukan lagi kegiatan yang hanya dilihat sebagai aktivitas pribadi melainkan aktivitas jama’ah yang memerlukan organisasi yang kuat dengan sistem pengelolaan yang lebih profesional dalam bentuk manajemen dakwah Islam. Kajian dakwah bukan lagi hanya dilihat sebagai kegiatan atau seni tetapi sebagai fenomena keilmuan yang didekati dengan epistemologi  yang lebih jelas.
Dalam kerangka epistemiknya, ilmu dakwah dipahami sebagai teoristik dan terapan Islam untuk menumbuhkan, menata, dan merekayasa masa depan kehidupan umat. Karena itu ilmu dakwah merupakan ilmu sosial islam yang menjelaskan kehidupan umat islam dibangun sesuai dengan paradigma dan sistem nilai islam.1

BAB II
PEMBAHASAN


  1. Pengertian Manajemen Dakwah
Kata Manajemen berasal dari bahasa Perancis kuno ménagement, yang memiliki arti "seni melaksanakan dan mengatur.[2] Sedangkan, Dakwah sendiri yang kita ketahui  artinya mengajak, menyeru umat untuk ke jalan kebenaran beramal melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya agar menjadi masyarakat yang madani. Kegiatan dakwah merupakan kewajiban untuk semua umat muslim di dunia. Kegiatan berdakwah tidak hanya dilakukan melalui ceramah saja. Tapi banyak cara untuk melakukan dakwah, bahkan media elektronik on-line seperti internet sekalipun bisa dijadikan untuk media dakwah bagi kaum muslim sekarang ini. Seiring dengan perkembangan zaman, manusia dari hari ke hari semakin tidak menentu keadaanya baik itu segi moralitas keagamaan maupun kehidupan sosial, ekonomi atau politik. Jadi sudah sepantasnya masyarakat muslim ini untuk banyak melakukan dakwah baik secara lisan, tulisan, melalui media, dan alat yang menunjang untuk berdakwah lainnya. Sehingga dengan dilakukannya dakwah setidaknya dapat memperbaiki keimanan individu, kelompok ataupun masyarakat pada umumnya.[3]
Manajemen dakwah adalah terminologi yang terdiri dari dua kata, yakni manajemen dan dakwah. Kedua kata ini berangkat dari dua disiplin ilmu yang sangat berbeda sama sekali. Isitilah yang pertama, berangkat dari disiplin Ilmu Ekonomi. Prinsipnya adalah dengan modal yang sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Manajemen sebagai ilmu pengetahuan (management as a science) adalah bersifat interdisipliner yang mana mempergunakan bantuan dari ilmu-ilmu sosial, filsafat dan matematika.[4] Semetara itu, istilah yang kedua berasal dari lingkungan agama, yakni Ilmu Dakwah. Ilmu ini diletakkan di atas prinsip, ajakan menuju keselamatan dunia dan akhirat, tanpa paksaan dan intimidasi serta tanpa bujukan material.                    

  1. Syarat-syarat Sebuah Displin Ilmu 
            Syarat-syarat tersebut adalah :
1.      Ilmu harus mempunyai objek
            Objek ilmu adalah sesuatu yang dibahs atau dipelajari dan dideskripsikan secara lengkap dan dapat dipertanggungajawabkan. Obyek ilmu dapat dibedakan sebagai berikut :
a.       Objek Material, yakni sesuatu yang bersifat nyata yang diselidiki dan dideskripsikan oleh ilmu. Obyek material ilmu banyak yang sama, sehingga tidak membedakan ilmu yang satu dengan yang ilmu yang lain, sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri.[5] Obyek material manajemen dakwah adalah umat manusia secara keseluruhan. Maksudnya, sesuai tujuan dakwah bahwa bukan saja umat Islam (muslim) yang menjadi obyeknya, tetapi juga seluruh umat manusia (berarti termasuk di dalamnya non-muslim). Obyek material itu sama dengan banyak dsiplin ilmu lainnya, seperti psikologi, ilmu hukum, sosiologi, ilmu ekonomi, ilmu pendidikan dan lain-lain. Dengan kata lain obyek material bukan yang memberikan ciri-ciri yang khas bagi satu disiplin ilmu.[6]
b.      Objek formal, yakni aspek khusus/tertentu pada obyek material yang diselidiki dan dideskripsikan oleh suatu ilmu. Obyek formal tidak sama anatara ilmu yang satu dengan yang lainnya, sehingga menjadi faktor utama yang membedakannya sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri.[7] Objek formalnya manajemen dakwah : meng­kaji dan mempelajari bagaimana me­nga­jak umat manusia agar masuk dalam sistem Islam dalam semua segi kehidupan. Bentuk kegiatan mengajak tersebut, terdiri secara lisan (komuni­kasi), tulisan (jurnalisme) dan aksi so­sial. Inilah karakteristik yang spesifik yang membedakan dakwah dari ilmu-il­mu Islam lainya (Ulumul Qur’an, Ulum al-hadits, Fiqh, dan lain-lain) yaitu mempelajari dan mengkaji bagai­mana mengajak umat manusia kepada jalan Islam. Rumusan ini dijabarkan lagi maka obyek formal dakwah dapat dirinci berikut ini: Proses penyampaian ajaran Islam kepada umat manusia, hubungan antara unsur-unsur dakwah, proses keagamaan pada diri manusia.

2.      Ilmu harus mempunyai metode
            Ilmu harus obyektif yang berarti harus mampu mengungkapkan obyeknya sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kesesuaia antara materi yang diungkapkan imu dengan obyeknya disebut obyektivitas. Untuk itu diperlukan metode sebagai prosedur kerja dalam mengungkapkan keadaan obyeknya. Metode itu harus memberikan jaminan yang tigggi untuk menghasilkan data/informasi dan penjelasannya sebagai kebenaran yang bernilai ilmiah. Prosedur dan cara bekrja itu disebut metode keilmuan, yang mampu menghasilkan pengetahuan yang sesuai dengan kenyataan yang diungkapkan mengenai obyeknya. Metode keilmuan harus merupakan cara kerja yang terarah, teratur, tertib dan benar. Metode keilmuan ini dibagi terdiri dari dua bagian besar, yakni prosedur dan cara kerja melalui penelitian, sedang yang lain adalah prosedur dan cara kerja melalui proses berfikir ilmiah yang bersifat rasional, analitis dan logis.
            Metode yang dipergunakan untk mengungkapkan berbagai disiplin ilmu, bukanlah merupakan ciri-ciri yang memberdakannya satu dengan yang lain. Kenyataan itu berarti juga persyaratan bahwa ilmu harus memiliki metode, bukanlah dimaksud metodenya harus berbeda satu dengan yang lain. Persyaratan ilmu harus mempunyai metode, maksudnya adlah bahwa prosedur dan cara kerja satu ilmu dalam mengungkapkan obyeknya, harus mampu menghasilkan pengetahuan tentang obyeknya itu secara lengkap, benar/tepat dan obyektif.

3.      Ilmu harus sistematik
            Deskripsi pengetahuan yang diungkapkan mengenai obyeknya sebagai kebenaran, harus jelas dan teratur urutan-urutannya, serta jenis pula hubungan bagian yang satu dengan bagian lainnya. Disamping itu, deskripsi materinya harus terpadu secara harmonis, sebagai kebulatan yang sistematis atau bersistem.

4.      Ilmu haryus bersifat universal
            Sifat universal bermakna bahwa hasi mengungkapkan obyeknya harus merupakan kebenaran yang berlaku umum, tidak sekedar mengenai sesuatu yang tertentu atau bukan hanya untuk sesuatu yang bersifat individual atau khusus. Teori-teori, hukum-hukum, dalil-dalil dan generalisasi-generalisasi yang dirumuskan ilmu, tidak dibatasi oleh tempat dan waktu, sehingga selalu dapat dimanfaatkan dan didayagunakan kapan dan dimanapun sesuai dengan obyeknya.[8]
            Dari uraian-uraian diatas perlu ditegaskan sekali lagi bahwa obyek material, metode,  sistematika dan sifat universal berbagi disiplin ilmu mungkin saja sama, sehingga tidak dapat dijadikan faktor yang dapat mebeda-bedakannya antara satu dengan yang lain. Dengan kata lain faktor tersebut bukan merupakan faktor  yang memberikan ciri-ciri sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Faktor utama yang mebedakan disiplin ilmu tersebut sebagai ilmu yang berdiri sendiri adalah obyek formalmya.
            Sehubungan dengan itu dilihat dari segi obyeknya material, secara garis besarnya dapat dibedakan anatara dua displin ilmu. Kedua disiplin ilmu itu adalah:
a.       Ilmu-ilmu sosial, yakni obyeknya adalah manusia dan segala yang dipengaruhi manusia. Teori-teori, hukum-hukum, dalil-dalil, definisi-definisi dan lain-lain di dalam ilmu sosial bersifat relatif dan kurang pasti. Oleh karena itu, disiplin ilmu ini selalu berkembang dan bergerak maju secara dinamis. Teori-teori, hukum-hukumnya dan lain-lain seperti disebutkan diatas, pada dasarnya merupakan hipotesis ilmiah. Dengan demikian teori-teori, hukum0hukum, dan lain-lain selalu mungkin berubah, berkembang dan disempurnakan, terutama jika ada bukti-bukti ilmiah baru yang menyatakan ketidak beneran, kekeliruan atau ketidak sempurnaannya.
b.      Ilmu-ilmu alam, yakni yang obyeknya benda-benda alam yang tidak dipengaruhi oleh manusia. Teori-teori, hukum-hukum, aksioma-aksioma, dalil-dalil, dan lain-lain yang dihasilkan secara relatif bersifat pasti. Oleh karena itu ilmu-ilmu ini disebut juga ilmu pasti atau Eksata. Namun harus diakui bahwa diantaranya terapat juga disilplin ilmu ini yang obyeknya adalah manusia. Namun dalam mempelajari obyeknya ilmu diperlakukan sebagai benda alam, yang tidak dapat dipengaruhi oleh manusia. Misalnya Ilmu Kedokteran dan Biologi (termasuk ilmu urai tubuh).[9]

D.    Unsur-unsur Manajemen Dakwah
Secara khusus, manajemen dakwah bertujuan menyiapkan ilmuan dakwah yang bermoral tinggi serta memiliki keterampilan sebagai manajer dalam mengelola lembaga-lembaga dakwah dan kemasyarakatan dengan pendekatan manajemen secara professional. Didalam suatu manajemen pasti terdapat unsur-unsur pendorongnya untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Dalam usaha bersama untuk mencapi tujuan tersebut digunakan unsur manajemen dakwah sebagai berikut :
a.       Men, yaitu tenaga kerja manusia baik tenaga kerja eklusif mauoun operatif. Manusia dalam proses dakwah merupakan pelaksana dakwah atau subjek dakwah dan juga orang-orang yang secara langusng berhadapan dengan masyarakat seperti mubaligh dan khatib.
b.      Money, yaitu uang yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Uang yang digunakan untuk melengkapi kebutuhan diperlukan dalam manajemen seperti upah melengkapi kebutuhan yang diperlukan dalam manajemen seperti untuk upah/gaji karyawan. Dalam kegiatan dakwah adanya uang termasuk media dakwah. Media dakwah adalah alat yang objektif yang menjadi salauran yang menghubungkan ide dengan umat, suaut elemen yang vital dan merupakan ural nadi dalam menyampaikan dakwah.[10]
c.       Method, yaitu cara yang digunakan dalam usaha mencapai tujuan. Tercapai atau tidaknya ditentukan oleh metode mana yang digunakan dalam suatu organisasi. Dalam kegiatan dakwah, metode dakwah dapat dilihat dari tiga sisi yaitu  sisi objek, subjek, dan materi.
d.      Material, yakni bahan-bahan yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Materi dalam manajemen dakwah adalah ajaran itu sendiri yang berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Sumber utama dan utama dakwah adalah ilmu-ilmu agama islam, dasar pokok utama adalah tauhid, sedangkan sumber suci murni adalah Al-Qur’an dan Sunnah, sumber kedua untuk dakwah ialah ilmu-ilmu umum seperti sejarah umum.
e.       Machines, yakni alat-alat yang digunakan untuk mencapat tujuan. Seperti media dakwah yaitu media cetak dan media elektronik termasuk didalamnya radio, televisi, internet.
f.       Market, yakni tempat menjual ouput dan produk-produk yang dihasilkan. Sedangkan dalam proses dakwah yang disebut objek dakwah adalah orang-orang yang menerima dakwah atau yang menjadi sasaran dakwah itu sendiri baik secara indivindu, kelompok maupun masyarakat umum.[11]
   
BAB III

PENUTUP
                              
A.    Simpulan
Dakwah tidak hanya dilihat sebagai kegiatan tabligh tetapi juga pembangunan umat dalam bentuk pengembangan masyarakat Islam. Demikian juga, dakwah bukan lagi kegiatan yang hanya dilihat sebagai aktivitas pribadi melainkan aktivitas jama’ah yang memerlukan organisasi yang kuat dengan sistem pengelolaan yang lebih profesional dalam bentuk manajemen dakwah Islam. Kajian dakwah bukan lagi hanya dilihat sebagai kegiatan atau seni tetapi sebagai fenomena keilmuan yang didekati dengan epistemologi  yang lebih jelas.


DAFTAR PUSTAKA

Nawai, Hadari dan  Martini hadari. 1994.  Ilmu administrasi : Ghalia Indonesia.   Jakarta.
Zaini, Muchtarom. 1996. Dasar-dasar manajemen dakwah : kurnia kalam semesta. Yogyakarta.
http://farelbae.wordpress.com/agama/dasar-dasar-ilmu-dakwah.
http://firmanaidin.blogspot.com/2010/01/manajemen-sebagai-ilmu-dan-seni


[1] Hasanudin, manajemen dakwah (jakarta : UIN jakarta press, 2005)
[3] http://farelbae.wordpress.com/agama/dasar-dasar-ilmu-dakwah
       [5] Prof. Dr. H. Hadari nawawi dan Dra. H. M. Martini hadari, Ilmu administrasi, (jakarta : Ghalia Indonesia, 1994), h.12
[6] www.google.com
       [7] Prof. Dr. H. Hadari nawawi dan Dra. H. M. Martini hadari, Ilmu administrasi, (jakarta : Ghalia Indonesia, 1994), h.12
[8] Ibid, hal.15
[9] Ibid, hal.17
[10] Hamzah ya’cub 1986, hal.47
[11] Muchtarom zaini, dasar-dasar manajemen dakwah, (yogyakarta : kurnia kalam semesta, 1996)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar